Perihal mendapatkan yang terbaik: di ambil lebih dulu.
Berawal dari mengenal kerabat yang punya sedikit problem bicara. Beliau ini baik bangeeet orangnya, friendly dan beliau adalah sosok orang yang bisa menginspirasi sekitarnya. Setiap ketemu beliau ceriaaa terus jadi bikin orang yang dideketnya juga kebawa seneng. Termasuk aku juga nih.
Mungkin beberapa orang bakal agak kaget pas komunikasi sama beliau. Dikarenakan gaya komunikasi beliau yang berbeda, yaitu menggunakan bahasa isyarat. Seneng banget setiap komunikasi sama beliau, soalnya beliau ini ekspresif banget kalau lagi cerita dan beliau ini peka banget sama lawan bicaranya. Aku salut banget, sih. Pokoknya beliau ini menginspirasi banget, deh!
Kebetulan beliau ini beda kota, kalaupun ketemu itu biasanya cuma pas idul fitri atau sekedar pas lagi pulang ke banten. Udah lamaaaa banget ga ketemu, semoga beliau sehat terus disana.
Untuk sekarang, ada sebagian mereka yang ga bisa lihat, ga bisa dengar, ga bisa bicara, atau mungkin kekurangan dari segi fisik.
Tapi itu sementara aja di dunia.
Untuk sekarang, ada sebagian mereka yang ga bisa lihat, ga bisa dengar, ga bisa bicara, atau mungkin kekurangan dari segi fisik.
Tapi itu sementara aja di dunia.
Di akhirat?
Bisa aja itu semua yang bakal jadi sumber penyelamat mereka dari kesusahan di akhirat. Dengan belum berfungsinya indra mereka di dunia, mereka jadi terjaga dari prilaku menggunakan alat indra dan tubuhnya untuk hal yang sia-sia, yang justru kadang malah jadi sarana berbuat dosa.
Because Allah is always fair. Surely, Allah is the best of planners!
Lanjuuut!
Nah, berawal dari beliau. Semenjak itu jadi tertarik banget sama orang-orang yang punya kelebihan kaya beliau ini. Penasaran sama kehidupannya, penasaran sama lingkungannya. Yang paling utama, penasaran sama bahasa yang digunain buat komunikasi sehari-harinya.
Bahasa apa coba?
Jawabannya adalaaah, Bahasa Isyarat.
Aku pribadi mandang Bahasa Isyarat itu kaya budaya. Ada Bahasa Sunda, Bahasa jawa, nah gitu juga sama ada Bahasa Isyarat. Di Indonesia sendiri kalau untuk Bahasa Isyarat itu ada SIBI dan BISINDO.
Dari sekian banyak teman teman yang memiliki kelebihan khusus, di postingan kali ini aku bakal ngefokusin tentang teman-teman "Deaf" atau yang kalian lebih kenal dengan istilah "Tuli" atau "Tunarungu".
Bagi aku pribadi, kalau liat temen-temen Tuli itu seneng banget. Apalagi kalau sampe langsung ketemu orang yang bersangkutan. Langsung bawaannya pengen banget ngobrol atau malah sharing-sharing.
Yatapi #daputrimahapaatuh.
Yatapi #daputrimahapaatuh.
Kalau ada tingkatan Bahasa Isyarat nih ya. Kayanya aku tuh masih masuk tahap TK, maklum kan nax new yesterday evening getoooh dech.
Tapi pengen banget bisa lancar gunain Bahasa Isyarat. Jadi kalau yang baca ini [ PD banget ada yang baca :( ] misalnya bahasa isyaratnya udah pro atau anggota komunitas gituuu, bisa kali, bisa kaliii, bisa kaliiiii ajak aku hehe
Untuk teman-teman yang mendengar,
Kalian harus banget tau nih kalau Tuli dan Tunarungu itu beda, dua istilah ini suka dipersepsikan sama. Padahal sebenernya dua istilah ini punya arti yang beda.
![]() |
| Perbedaan Tuli & Tunarungu |
Selama ini istilah Tunarungu lebih sering digunain karena dianggap lebih sopan daripada Tuli. Tapi sebenernya istilah tunarungu ini berkesan lebih kasar bagi mereka para penyandang gangguan pendengaran.
Tunarungu adalah istilah yang awalnya dikemukakan di bidang kedokteran sebagai sebuah kelainan atau kerusakan pada indera pendengaran. Faktornya banyak, bisa karena kecelakaan, sakit, kelainan syaraf, atauu bisa juga faktor usia.
Jadi bisa dapet kesimpulan bahwa tunarungu itu adalah diagnosis medikal yang mengidentifikasi adanya kerusakan pada indera pendengar, atau kondisi pengdengaran yang rusak.
Sedangkan istilah Tuli, Tuli lebih punya makna yang luas. Tuli ga merujuk pada kerusakan, justru merujuk kepada kebudayaan. Jadi Tuli itu adalah suatu identitas. Mereka dilahirkan pada keadaan yang normal, punya perbedaan budaya. cara berkomunikasi dengan bahasa yang berbeda. Jadi penggunaan istilah Tuli itu bakal lebih nyaman untuk mereka, daripada panggilan tunarungu. Karena Tuli lebih mengandung arti dan makna yang positif. Oh iya, karena Tuli adalah suatu identitas jadi penulisan awalnya pake huruf kapital yaaa.
Bagi kalian yang masih komunikasi pakai daun lontar, pentungan, merpati pos, telegram atau faksimile bisa pindah dulu sebentar ke Twitter, Instagram, Facebook atau apapun social media yang kalian punya, gapapadeh Friendster juga kalau masih ada.
Dari social media kalian bisa banget buat kepoin aktivitas temen-temen Tuli, kan tak kenal maka tak samyang.
Dari social media kalian bisa banget buat kepoin aktivitas temen-temen Tuli, kan tak kenal maka tak samyang.
Banyakkk banget kalian bisa nemuin teman-teman Tuli yang pretasinya sampai mewangikan nama Bangsa. Baru-baru ini juga ada beberapa dari mereka yang jadi perwakilan buat mewakili Indonesia ke Argentina.
Wah, pasti kalian ikut bangga, kan ??!!
Untuk teman-teman Deaf yang misalnya baca postingan ini,
Semangat terus!!!
Semangat terus buat menginspirasi orang-orang disekitarnya. Semangat terus buat menyebar kebaikan dan semangat terus berkarya.
Pokoknya Semangatttttt!
Kalian itu keren banget bisa menginspirasi banyak orang. Bahasa Isyarat kalian juga gakalah keren sama bahasa yang lain. Terus semangat ya temen-temen untuk mengenalkan Bahasa Isyarat lebih luas lagi, karena diluar sana banyak banget yang ingin lebih mengenal lagi sama kalian dan budaya kalian. :)

aku semangat kok
BalasHapus:(
Hapus